MAKALAH
MEMAHAMI PUASA DAN NILAI
FILOSOFISNYA
Dosen pembimbing :
Musa, M. Pd,I
OLEH
ACH. KHOLILI
MOH HOLAN
Smester : iii
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-KHAIRAT
KAMPUS 4, BIRA TIMUR SOKOBANAH SAMPANG
TAHUN 2012
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………………
DAFTAR ISI …………………………………...………………………………….
BAB I :
PENDAHULUAN
…………………..……………………………………...……..1
- Latar Belakang ……………………………………………………………1
- Rumusan Masalah ……………………………………………………...…1
- Tujuan Penulisan ……………………………………………………….....1
BAB II :
PEMBAHASAN
….………………………………………………………………3
- Pengertian puasa …………….…………………………………………….3
b.
Syarat wajib dan syarat sahnya dari puasa ………………………………..5
c.
Rukun puasa ………………………………………………………………6
d.
Macam-macam puasa …………………………………………………….7
1. Puasa fardhu …. ………………………………………………………7
2. Puasa sunnat …………………………………………………………..9
3. Puasa makruh ………………………………………………………..10
4. Puasa haram ………………………………………………………….11
- Hal-hal yang membatalkan puasa ……………………………………….11
- Hikmah puasa ……………………………………………………………12
BAB III :
PENUTUP ……………………………………………………………………….14
- Kesimpulan ………………………………………………………………14
- Saran-Saran …………………………………………………………...…15
- Daftar Pustaka …………………………………...………………………17
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Puasa merupakan
salah satu rukun islam. Salah satu pilar penegak agama islam ini secara jelas
disebutkan dalam Al quran, misalnya dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang kurang
lebih artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertaqwa”. Puasa juga diperintahkan kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad
SAW. Tujuan utama puasa ini adalah agar kita bertaqwa, bertaqwa kepada Allah
SWT. Puasa merupakan ibadah mahdhoh yang telah ditentukan syarat,
rukun dan ketentuannya. Puasa terbagi atas puasa wajib, sunnah, makruh dan
haram. Puasa yang diwajibkan misalnya, puasa pada bulan Ramadhan dan puasa
nadzar. Tidak seperti ibadah mahdhoh yang lain, dimana amalan ibadah mahdhoh
seperti shalat adalah untuk kita sendiri, akan tetapi ibadah puasa ini adalah
milik Allah SWT.
Puasa juga
sebagai sarana latihan bagi kita untuk menahan hawa nafsu yang timbul dalam
diri kita. Selain itu, puasa juga memberikan kesehatan jasmani bagi orang yang
melaksanakannya salah satunya adalah kesehatan pencernaan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian puasa itu ?
2. Apa saja syarat wajib
dan syarat sahnya dari puasa ?
3. Apa saja rukun puasa ?
4. Apa saja macam-macam
puasa ?
5. Apa saja hal-hal yang
membatalkan puasa ?
6.
Apa saja hikmah dari
puasa itu ?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk memahami pengertian puasa.
2. Untuk mengetahui syarat wajib
dan syarat sahnya puasa.
3. Untuk mengetahui rukun puasa
4. Untuk mengetahui macam-macam
puasa.
5. Untuk mengetahui hal-hal yang
membatalkan puasa.
6.
Untuk memahami hikmah puasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
PUASA
Menurut bahasa
Shiyam/puasa berarti "menahan diri". Firman Allah “aku bernadzar kepada tuhan yang maha
pengasih akan berpuasa”.(QS Maryam : 26)
Menurut syara'
ialah : menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya dari mulai terbit
fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata mata, dengan
disertai niat dan syarat-syarat tertentu.
Allah ‘azza wajalla Telah berfirman: “semua amalaan manusia adalah untuk
dirinya, kecuali puasa, maka itu hendaklah untukku dan Aku akan memberinya
ganjaran”. Dan puasa itu merupakaan benteng, maka ketika
datang saat puasa, janganlah seseorang berkata keji, berteriak atau
mencaci-maki! Dan seandainya dicaci maki oleh seseorang, atau diajak berkelahi,
maka jawablah : “saya ini berpuasa” sampai dua kali. Demi Tuhan yang nyawa
Muhammad ada dalam genggaamannya, bau mulut orang berpuasa itu lebih harum di
sisi Allah pada haari kiamat daripada kasturi. Dan orang berpuasa itu akan
beroleh kegembiraan yang menyenangkan hati: Di kala berbuka, dia akan gembiira
dengan berbuka itu, dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan gembira karena
puasanya.”(HR.
Ahmad, Muslim dan Nasa’i)
Puasa Ramadlan
adalah salah satu sendi ibadah yang dilakukan
pada bulan Ramadlan, selama satu bulan (29 atau 30) hari. Ketentuan yang
mewajibkan puasa ini ialah firman allah swt:
Artinya : “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(yaitu) dalam beberapa hari
yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang
berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan
itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur”.(QS.Al-Baqarah, ayat 183-185)
Di
dalam hadits juga dijelaskan tentang kewajiban puasa ini sebagaimana sabda Nabi
saw. :
“Islam
ditegakkan atas 5 dasar:
1.
Bersaksi bahwa
tiada Tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah dan Muhammad saw. utusan-Nya.
2.
Mengerjakan
shalat.
3.
Mengeluarkan
zakat.
4.
Mengerjakan
haji.
5.
Berpuasa pada bulan Ramadlan”.
(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)
Dan
dari Abi Hurairah r.a berkata : Rasulullah saw bersabda : "Allah telah
berfirman : Semua amal kela-kuan anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa
nafsu, kecuali puasa, maka itu melulu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan
membalasnya. Dan puasa itu sebagai perisai, maka jika seorang sedang berpuasa,
janganlah berkata keji atau ribut-ribut, dan kalau seorang mencaci maki
padanya, atau mengajak berke-lahi maka hendaknya dikatakan padanya : Aku
berpuasa. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, bau mulut orang yang
berpuasa bagi Allah lebih ha-rum dari bau misik (kasturi). Dan untuk orang
puasa dua kali masa gembira, yaitu ketika akan berbuka puasa, dan ketika ia
menghadap Tuhan akan gembira benar, menerima pahala puasanya”.
(HR. Bukhari dan Muslim)
B. SYARAT
WAJIB DAN SYARAT SAHNYA PUASA
1. Syarat-syarat
wajib berpuasa
Syarat-syarat
wajib berpuasa sebagai berikut :
a. Beragama islam.
b. Baligh dan berakal.
Anak-anak tidak diwajibkan berpuasa, tetapi apabila kuat mengerjakannya boleh
diajak berpuasa sebagai latihan.
c. Suci dari
haidh dan nifas (ini tertentu bagi wanita).
d. Kuasa (ada kekuatan).
Kuasa disini artinya, tidak sakit dan bukan yang sudah tua. Orang sakit
dan orang tua, mereka ini boleh tidak berpuasa, tetapi wajib membayar fidyah.
2. Syarat-syarat
sahnya puasa
Syarat-syarat sahnya puasa sebagai berikut :
a. Islam.
b. Tamyiz.
Artinya orang-orang/anak-anak yang dapat
membedakan antara baik dan
buruk. Tegasnya bukan anak yang terlalu kecil dan bukan orang
gila.
c. Suci dari haidh dan nifas.
Wanita yang sedang haidh dan nifas tidak sah jika mereka berpuasa, tetapi wajib
qadla pada waktu lain, sebanyak bilangan hari yang ia tinggalkan.
d. Tidak di dalam hari-hari
yang dilarang untuk berpuasa, yaitu di luar bulan Ramadlan.
C. RUKUN
PUASA
1.
Niat. Yaitu menyengaja puasa Ramadlan, setelah terbenam matahari hingga
sebelum fajar shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak
(berniat), bahwa besok harinya akan mengerja-kan puasa wajib Ramadlan. Adapun
puasa sunnat, boleh niatnya dilakukan pada pagi harinya.
Dari Hafshah Ummul Mu'minin ra. Bahwasanya Nabi saw bersabda : "Barangsiapa
yang tidak menetapkan akan berpuasa sebelum fajar, maka tiada sah
puasa-nya". (HR. Imam yang lima, Nasa'i dan Turmudzi cenderung
mentarjih mauqufhya, tapi disahkan secara marfu' oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu
Hibban)
Dan dalam riwayat Daru Quthni: "Tidak sah puasanya bagi orang yang
tidak menetapkannya dari malam harinya". Niat itu sah pada salah satu saat
di malam hari, dan tidak disyaratkan menngucapkannya, karena itu merupakan
pekerjaan hati tak ada sangkut pautnya dengan lisan. Hakikat niat
adalah menyengaja suatu perbuatan demi mentaati perintah Allah SWT dalam
mengharapkan keridhaanNya”(Sayyid Sabiq, 1993:175)
2.
Meninggalkan segala yang membatalkan puasa
mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari.
Dalam Quran surat Al Baqarah ayat 187 :
Artinya : “Dihalalkan bagi
kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka
adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu
dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa
yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu
benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu
beri'tikaf dalam masjid.
Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.
D. MACAM-MACAM
PUASA
1. Puasa
Fardhu
Puasa fardhu
adalah puasa yang harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan syariat Islam. Yang
termasuk ke dalam puasa fardhu antara lain:
a. Puasa bulan
Ramadhan.
b. Puasa Kafarat.
Puasa kafarat adalah puasa sebagai penebusan yang dikarenakan pelanggaran
terhadap suatu hukum atau kelalaian dalam melaksanakan suatu kewajiban,
sehingga mengharuskan seorang mukmin mengerjakannya supaya dosanya dihapuskan,
bentuk pelanggaran dengan kafaratnya antara lain :
1) Apabila seseorang
melanggar sumpahnya dan ia tidak mampu memberi makan dan pakaian kepada sepuluh
orang miskin atau membebaskan seorang roqobah, maka ia harus melaksanakan puasa
selama tiga hari.
2) Apabila
seseorang secara sengaja membunuh seorang mukmin sedang ia tidak sanggup
membayar uang darah (tebusan) atau memerdekakan roqobah maka ia harus berpuasa
dua bulan berturut-turut (QS, An Nisa: 94).
3) Apabila dengan
sengaja membatalkan puasanya dalam bulan Ramadhan tanpa ada halangan yang telah
ditetapkan, ia harus membayar kafarat dengan berpuasa lagi sampai genap 60
hari.
4) Barangsiapa yang
melaksanakan ibadah haji bersama-sama dengan umrah, lalu tidak mendapatkan
binatang kurban, maka ia harus melakukan puasa tiga hari di Mekkah dan tujuh
hari sesudah ia sampai kembali ke rumah. Demikian pula, apabila dikarenakan suatu
mudharat (alasan kesehatan dan sebagainya) maka berpangkas rambut, (tahallul)
ia harus berpuasa selama 3 hari.
Menurut Imam Syafi’I,
Maliki dan Hanafi: Orang yang berpuasa berturut-turut karena Kafarat, yang
disebabkan berbuka puasa pada bulan Ramadhan, ia tidak boleh berbuka walau
hanya satu hari ditengah-tengah 2 (dua) bulan tersebut, karena kalau berbuka
berarti ia telah memutuskan kelangsungan yang berturut-turut itu. Apabila ia
berbuka, baik karena uzur atau tidak, ia wajib memulai puasa dari awal lagi
selama dua bulan berturut-turut.
c. Puasa Nazar.
Puasa nadzar adalah puasa yang tidak diwajibkan oleh Tuhan, begitu juga
tidak disunnahkan oleh Rasulullah saw., melainkan manusia sendiri yang telah
menetapkannya bagi dirinya sendiri untuk membersihkan (Tazkiyatun Nafs) atau
mengadakan janji pada dirinya sendiri bahwa apabila Tuhan telah menganugerahkan
keberhasilan dalam suatu pekerjaan, maka ia akan berpuasa sekian hari. Mengerjakan
puasa nazar ini sifatnya wajib. Hari-hari nazar yang ditetapkan apabila tiba,
maka berpuasa pada hari-hari tersebut jadi wajib atasnya dan apabila dia pada
hari-hari itu sakit atau mengadakan perjalanan maka ia harus mengqadha pada
hari-hari lain dan apabila tengah berpuasa nazar batal puasanya maka ia
bertanggung jawab mengqadhanya.
2.
Puasa Sunnat
Puasa sunnat
(nafl) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan apabila
tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnat itu antara lain :
a. Puasa 6 (enam)
hari di bulan Syawal.
Bersumber dari Abu Ayyub Anshari r.a. sesungguhnya Rasulallah saw bersabda:
“ Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian dia menyusulkannya
dengan berpuasa enam hari pada bulan syawal , maka seakan-akan dia berpuasa
selama setahun”
b.
Puasa pertengahan bulan (13, 14,
15) dari tiap-tiap bulan Qomariyah.
Pada suatu hari ada seorang Arab dusun datang
pada Rasulullah saw. dengan membawa kelinci yang telah dipanggang. Ketika
daging kelinci itu dihidangkan pada beliau maka beliau saw. hanya menyuruh
orang-orang yang ada di sekitar beliau saw. untuk menyantapnya, sedangkan
beliau sendiri tidak ikut makan, demikian pula ketika si arab dusun tidak ikut
makan, maka beliau saw bertanya padanya, mengapa engkau tidak ikut makan?
Jawabnya “aku sedang puasa tiga hari setiap bulan”,
“kalau engkau bisa melakukannya puasa tiga hari setiap bulan maka sebaiknya
lakukanlah puasa di hari-hari putih yaitu pada hari ke tiga belas, empat belas
dan ke lima belas”.
c.
Puasa hari Senin dan hari Kamis.
Dari Aisyah ra. "Nabi saw. memilih puasa
hari senin dan hari kamis".
(H.R. Turmudzi)
d.
Puasa hari Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah atau
Haji).
Dari Abu Qatadah, Nabi saw bersabda: “Puasa hari Arafah itu menghapuskan
dosa dua tahun, satu tahun yang tekah lalu dan satu tahun yang akan datang”.
(H.R. Muslim)
e.
Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharam.
Dari Salim, dari ayahnya berkata: Nabi saw bersabda: “Hari Asyuro (yakni
10 Muharram) itu jika seseorang menghendaki puasa, maka berpuasalah pada hari
itu”.
f.
Puasa nabi Daud as. (satu hari bepuasa satu
hari berbuka).
Bersumber dari Abdullah bin Amar ra. dia berkata : Sesungguhnya Rasulullah
saw bersabda: “Sesungguhnya puasa yang paling disukai oleh Allah swt. ialah
puasa Nabi Daud as. sembahyang yang paling d sukai oleh Allah ialah sembahyang
Nabi Daud as. Dia tidur sampai tengah malam, kemudian melakukan ibadah pada
sepertiganya dan sisanya lagi dia gunakan untuk tidur, kembali Nabi Daud
berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.”
Mengenai masalah puasa Daud ini, apabila selang hari puasa tersebut masuk
pada hari Jum’at atau dengan kata lain masuk puasa pada hari Jum’at, hal ini
dibolehkan. Karena yang dimakruhkan adalah berpuasa pada satu hari Jum’at yang
telah direncanakan hanya pada hari itu saja.
g.
Puasa bulan Rajab, Sya’ban dan pada bulan-bulan
suci.
Dari Aisyah r.a berkata: “Rasulullah saw.
berpuasa sehingga kami mengatakan: beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka
sehingga kami mengatakan: beliau tidak berpuasa. Saya tidaklah melihat
Rasulullah saw. menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan. Dan saya tidak
melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada puasa di bulan Sya’ban”.
3. Puasa
Makruh
Menurut fiqih 4
(empat) mazhab, puasa makruh itu antara lain :
a.
Puasa pada hari Jumat secara tersendiri.
Berpuasa pada hari Jumat hukumnya makruh
apabila puasa itu dilakukan secara mandiri. Artinya, hanya mengkhususkan hari
Jumat saja untuk berpuasa.
Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Saya
mendengar Nabi saw. bersabda: “Janganlah kamu berpuasa pada hari Jum’at,
melainkan bersama satu hari sebelumnya atau sesudahnya”.
b.
Puasa sehari atau dua hari sebelum bulan
Ramadhan.
Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw beliau bersabda: “Janganlah salah
seorang dari kamu mendahului bulan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari,
kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah hari itu”.
c. Puasa pada hari
syak (meragukan).
Dari Shilah bin Zufar berkata: Kami berada di
sisi Amar pada hari yang diragukan Ramadhan-nya, lalu didatangkan seekor
kambing, maka sebagian kaum menjauh. Maka ‘Ammar berkata: “Barangsiapa yang
berpuasa hari ini maka berarti dia mendurhakai Abal Qasim”.
4. Puasa
Haram
Puasa haram
adalah puasa yang dilarang dalam agama Islam. Puasa yang diharamkan.
Puasa-puasa tersebut antara lain:
a.
Puasa pada dua hari raya.
Dari Abu Ubaid hamba ibnu Azhar berkata: Saya menyaksikan hari raya (yakni
mengikuti shalat ‘id) bersama Umar bin Khattab r.a, lalu beliau berkata:”Ini
adalah dua hari yang dilarang oleh Rasulullah saw untuk mengerjakan puasa,
yaitu hari ini kamu semua berbuka dari puasamu (1 Syawwal) dan hari yang lain
yang kamu semua makan pada hari itu, yaitu ibadah hajimu”.(Shahih Bukhari,
jilid III:1901)
b.
Puasa seorang wanita dengan tanpa izin suami.
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh seorang
wanita berpuasa sedangkan suaminya ada di rumah, di suatu hari selain bulan
Ramadhan, kecuali mendapat izin suaminya”.(Sunan Ibnu Majah,jilid II:1761)
E. HAL-HAL
YANG MEMBATALKAN PUASA
1. Memasukkan sesuatu ke
dalam lobang rongga badan dengan sengaja. Seperti makan, minum, merokok,
memasukkan benda ke dalam telinga atau ke dalam hidung hingga melewati pangkal hidungnya.
Tetapi jika karena lupa, tiadalah yang demikian itu membatalkan
puasa. Suntik di lengan, di
paha, di punggung atau lainnya yang serupa, tidak memba-talkannya,
karena di paha atau di punggung bukan berarti melalui lobang rongga badan.
2.
Muntah dengan
sengaja. muntah yang tidak dengan sengaja tidak
membatalkannya.
3.
Haidh dan nifas. Wanita yang haidh dan nifas
haram mengerjakan puasa, tetapi wajib mengqadha sebanyak hari yang ditinggalkan
waktu haidh dan nifas.
4.
Jima' pada siang hari atau pada waktu fajar
shadiq telah nampak.
5.
Gila walaupun sebentar.
6.
Mabuk atau pingsan sepanjang hari.
7.
Murtad. Yakni keluar dari agama Islam.
Perlu
diterangkan disini tentang sangsi orang yang jima' (bercampur) pada siang hari
di bulan Ramadlan. Orang yang berjima' (melakukan hubungan kelamin) pada siang
hari bulan Ramadlan, puasanya batal. Selain itu ia wajib membayar denda atau
kifarah. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw :
Dari Abu
Hurairah ra. bahwasanya seorang laki-laki pernah bercampur dengan isterinya siang
hari pada bulan Ramadlan, lalu ia minta fatwa kepada Rasulul lah saw tentang
itu. Maka jawab Nabi saw : "Adakah engkau mempunyai budak?”. Ia
menjawab : “Tidak”. Nabi berkata lagi : "Kuatkah engkau puasa
dua bulan berturut-turut ?". la menjawab : “Tidak”. Sabda Nabi
lagi : "Kalau engkau tidak berpuasa, maka berilah makan orang-orang
miskin sebanyak enam puluh orang". (H.R. Muslim)
F.
HIKMAH PUASA
Puasa merupakan ajaran agama yang mempunyai
hikmah sangat banyak. Puasa ialah ibadat badaniyah, dan tindakan serentak yang
bertalian antara perasaan jiwa dan perasaan badan dan kerja yang menghubungkan
langsung antara bathin dan lahir.
Dalam berpuasa seseorang dapat mengontrol
anggauta badannya hingga gerak gerik jiwa dan bathinnya dan ucapan mulutnya.
Kesucian yang ditimbulkan dari akibat puasa adalah kesucian "ma'nawi".
Bukan hanya kesucian lahir semata-mata yang mungkin dapat dibersih-kan dengan
air, juga kesucian bathin dapat dibersihkan dengan latihan jiwa dan perbuatan
kalbu.
Hikmah puasa dapat disimpulkan sebagai berikut
:
1.
Mendidik para mu'min supaya berperangai luhur
dan agar dapat mengontrol seluruh nafsu dalam keinginan manusia biasa.
2.
Mendidik jiwa agar biasa dan dapat menguasai
diri, sehingga mudah menjalankan semua kebaikan dan meninggalkan segala larangan.
3.
Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan
tahan uji.
4.
Mendidik jiwa agar dapat memegang amanat
sebaik-baiknya, karena orang berpuasa itu sebagai seorang yang
mendapat amanat untuk tidak makan dan minum atau hal-hal yang membatalkannya.
Sedang amanat itu harus dapat dipegang teguh, baik di hadapan orang banyak
maupun di kala sendirian.
5.
Untuk mendidik manusia agar
jangan mudah lekas dipengaruhi oleh benda sekalipun ia dalam
keadaan sengsara/kelaparan dapat mempertahankan pribadinya dan pribadi Islam
hingga tidak lekas terjerumus ke jurang ma'shiat dan sebagainya.
6.
Ditinjau dari segi
kesehatan, puasa sangat berguna untuk menjaga dan
memperbaiki kesehatan.
7.
Untuk menyuburkan rasa syukur kepada
"Allah" atas karunia yang telah diberikan kepada hamba-Nya.
8.
Menanamkan rasa “cinta kasih"
sesama manusia, terutama terhadap
orang-orang miskin, orang-orang yang menderita
kelaparan dan kesengsaraan. Dengan berlatih lapar dan dahaga setiap hari
selama satu bulan, orang yang mampu dapat merasakan nasib fakir dan miskin.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1.
Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang
membatalkannya dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, karena
perintah Allah semata mata, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu.
2. Syarat-syarat
wajib berpuasa
a.
Beragama islam.
b.
Baligh dan berakal.
c.
Suci dari haidh dan nifas.
d.
Kuasa.
3. Syarat-syarat
sahnya puasa
a.
Islam.
b.
Tamyiz.
c.
Suci dari haidh dan nifas.
d.
Tidak di dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa.
4.
Rukun puasa
a.
Niat.
b.
Meninggalkan segala yang membatalkan puasa
mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari.
5. Macam-macam
puasa
a. Puasa Fardhu
1) Puasa bulan
Ramadhan.
2) Puasa Kafarat.
3) Puasa Nazar
b.
Puasa Sunnat
1)
Puasa 6 (enam) hari di bulan Syawal.
2)
Puasa pertengahan bulan (13, 14,
15) dari tiap-tiap bulan Qomariyah.
3)
Puasa hari Senin dan hari Kamis.
4)
Puasa hari Arafah (Tanggal 9 Dzulhijjah atau
Haji).
5)
Puasa tanggal 9 dan 10 bulan Muharam.
6)
Puasa nabi Daud as (satu hari bepuasa satu hari
berbuka).
7)
Puasa bulan Rajab, Sya’ban dan pada bulan-bulan
suci.
c. Puasa Makruh
1) Puasa pada hari
Jumat secara tersendiri.
2) Puasa sehari
atau dua hari sebelum bulan Ramadhan.
3) Puasa pada hari
syak (meragukan).
d. Puasa Haram
1) Puasa pada dua
hari raya.
2) Puasa seorang
wanita dengan tanpa izin suami.
6.
Hal-hal yang membatalkan puasa
a.
Memasukkan sesuatu ke dalam lobang rongga badan dengan sengaja.
b.
Muntah dengan
sengaja.
c.
Haidh dan nifas.
d.
Jima' pada siang hari atau pada waktu fajar
shadiq telah nampak.
e.
Gila walaupun sebentar.
f.
Mabuk atau pingsan sepanjang hari.
g.
Murtad.
7.
Hikmah puasa
a.
Mendidik para mu'min supaya berperangai luhur
dan agar dapat mengontrol seluruh nafsu dalam keinginan manusia biasa.
b.
Mendidik jiwa agar biasa dan dapat menguasai
diri.
c.
Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan
tahan uji.
d.
Mendidik jiwa agar dapat memegang amanat
sebaik-baiknya.
e.
Untuk mendidik manusia agar
jangan mudah lekas dipengaruhi.
f.
puasa sangat berguna untuk
menjaga dan memperbaiki kesehatan.
g.
Untuk menyuburkan rasa syukur kepada
"Allah" atas karunia yang telah diberikan kepada hamba-Nya.
h.
Menanamkan rasa “cinta kasih"
sesama manusia.
B.
SARAN
Memang segala sesuatu harus diketahuai ilmunya
dan dasar-dasar yang mendasari sesuatu hal, sehingga seseorang akan mau dan
mampu mempelajari dan mengamalkan sesutuatu hal lebih banyak dan dengan baik
seperti pula puasa, maka seseorang itu akan melaksanakan puasa dengan
sungguh-sungguh jikalau tahu manfaatnya dan hukum-hukum yang mendasari sebuah
amalan. Kerjakanlah puasa sesuai dengan segala ketentuannya dan pada bulan
Ramadhan jadikanlah bulan suci Ramadhan sebagai bulan untuk berprestasi seperti
halnya Rasulullah saw. Para sahabat dan orang-orang saleh sebagai bulan untuk
berprestasi kepada Allah.
Jangan sia-siakan kesempatan terbaik ini karena
kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah Swt. Bulan Ramadhan
merupakan hadiah besar yang langsung dberikan Allah. Bagi umat islam sebagai
sarana penyucian diri, Insya Allah orang termalangpun bisa sukses apabila
melaksanakan puasa dengan baik dan benar. Oleh karena itu segeralah mengejar
ilmunya dan amalkan dengan sungguh-sungguh.
Jika pembaca menemukan kesalahan dalam resume
ini, baik dari segi penulisan, penyusunan, ataupun dari segi penjelasannya.
Maka penulis mohon diperbaiki, karena penulis menyadari bahwa penulis hanyalah
manusia biasa yang tak lepas dari sifat kekurangan dan sifat kelemahan. Dan kami
mohon saran dan kritik yang sifatnya mambangun untuk menumbuh kembangkan
semangat jiwa kepenulisan.
DAFTAR PUSTAKA
Sabiq. Sayyid. 1993. Fikih sunnah 3.
Bandung: Alma’arif.

silahkan
BalasHapus