TAFSIR SURAT AL-KAHFI AYAT 65-70
TENTANG SUBJEK PENDIDIKAN
Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir
Tarbawi
Guru Pembimbing :
Miftahol
Arifin, S.Pd.I., MM., MSI.
Kelompok
|
:
XVI
|
Nama
|
:
Ach Kholili
|
:
M.Imamuddin
|
|
:
Fahrur Rosi
|
|
Smester
|
:
V A
|
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AL-KHAIRAT
Tahun
2013
AL-KAHFI AYAT 65-70
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ
مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ
مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا وَكَيْفَ
تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ
صَابِرًا وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ
شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
Artinya
:
Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba
di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi
Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[886].
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?" Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup
sabar bersama aku. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata:
"Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku
tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun". Dia berkata: "Jika
kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu
apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".
[886]
Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat
di sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu
tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.
TAFSIR
AL-JALALAIN
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ
عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
(Lalu
mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami)
yaitu Khidhir (yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami) yakni
kenabian, menurut suatu pendapat, dan menurut pendapat yang lain kewalian,
pendapat yang kedua inilah yang banyak dianut oleh para ulama (dan yang telah
Kami ajarkan kepadanya dari sisi Kami) dari Kami secara langsung (ilmu). Lafadz
'ilman menjadi Maf'ul Tsani, yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
masalah-masalah kegaiban. Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadis, bahwa
pada suatu ketika Nabi Musa berdiri berkhutbah di hadapan kaum Bani Israel.
Lalu ada pertanyaan, "Siapakah orang yang paling alim?" Maka Nabi
Musa menjawab, "Aku". Lalu Allah menegur Nabi Musa karena ia belum
pernah belajar (ilmu gaib), maka Allah menurunkan wahyu kepadanya,
"Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang tinggal di pertemuan dua
laut, dia lebih alim daripadamu". Musa berkata, "Wahai Rabbku!
Bagaimanakah caranya supaya aku dapat bertemu dengan dia". Allah
berfirman, "Pergilah kamu dengan membawa seekor ikan besar, kemudian ikan
itu kamu letakkan pada keranjang. Maka manakala kamu merasa kehilangan ikan
itu, berarti dia ada di tempat tersebut". Lalu Nabi Musa mengambil ikan
itu dan ditaruhnya pada sebuah keranjang, selanjutnya ia berangkat disertai
dengan muridnya yang bernama Yusya bin Nun, hingga keduanya sampai pada sebuah
batu yang besar. Di tempat itu keduanya berhenti untuk istirahat seraya
membaringkan tubuh mereka, akhirnya mereka berdua tertidur. Kemudian ikan yang
ada di keranjang berontak dan melompat keluar, lalu jatuh ke laut. Lalu ikan
itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. (Q.S. Al Kahfi, 61) Allah menahan
arus air demi untuk jalannya ikan itu, sehingga pada air itu tampak seperti terowongan.
Ketika keduanya terbangun dari tidurnya, murid Nabi Musa lupa memberitakan
tentang ikan kepada Nabi Musa. Lalu keduanya berangkat melakukan perjalanan
lagi selama sehari semalam. Pada keesokan harinya Nabi Musa berkata kepada
muridnya, "Bawalah ke mari makanan siang kita", sampai dengan
perkataannya, "lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut dengan
cara yang aneh sekali". Bekas ikan itu tampak bagaikan terowongan dan Musa
beserta muridnya merasa aneh sekali dengan kejadian itu.
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ
مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
(Musa
berkata kepada Khidhir, "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan
kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu?)" yakni ilmu yang dapat membimbingku. Menurut suatu qiraat
dibaca Rasyadan. Nabi Musa meminta hal tersebut kepada Khidhir. karena menambah
ilmu adalah suatu hal yang dianjurkan.
قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
(Dia
menjawab, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar
bersamaku").
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
(Dan
bagaimana kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan
yang cukup tentang hal itu?) di dalam hadis yang telah disebutkan tadi sesudah
penafsiran ayat ini disebutkan, bahwa Khidhir berkata kepada Nabi Musa,
"Hai Musa! Sesungguhnya aku telah menerima ilmu dari Allah yang Dia
ajarkan langsung kepadaku; ilmu itu tidak kamu ketahui. Tetapi kamu telah
memperoleh ilmu juga dari Allah yang Dia ajarkan kepadamu, dan aku tidak
mengetahui ilmu itu". Lafal Khubran berbentuk Mashdar maknanya kamu tidak
menguasainya, atau kamu tidak mengetahui hakikatnya.
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلا أَعْصِي
لَكَ أَمْرًا
(Musa
berkata, "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar,
dan aku tidak akan menentang) yakni tidak akan mendurhakai (kamu dalam sesuatu
urusan pun)" yang kamu perintahkan kepadaku. Nabi Musa mengungkapkan
jawabannya dengan menggantungkan kemampuannya kepada kehendak Allah, karena ia
merasa kurang yakin akan kemampuan dirinya di dalam menghadapi apa yang harus
ia lakukan. Hal ini merupakan kebiasaan para nabi dan para wali Allah, yaitu
mereka sama sekali tidak pernah merasa percaya terhadap dirinya sendiri walau hanya
sekejap, sepenuhnya mereka serahkan kepada kehendak Allah.
فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى
أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
(Dia
mengatakan, "Jika kamu ingin mengikuti saya, maka janganlah kamu
menanyakan kepada saya) Dalam satu qiraat dibaca dengan Lam berbaris fatah dan
Nun bertasydid (tentang sesuatu) yang kamu ingkari menurut pengetahuanmu dan
bersabarlah kamu jangan menanyakannya kepadaku (sampai aku sendiri
menerangkannya kepadamu)" hingga aku menuturkan perihalnya kepadamu berikut
sebab musababnya. Lalu Nabi Musa menerima syarat itu, yaitu memelihara etika
dan sopan santun murid terhadap gurunya
TAFSIR
IBNU KATSIR
Allah
menceritakan tentang ucapan Musa kepada orang ‘alim, yakni Khidhir yang secara
khusus diberi ilmu oleh Allah Ta’ala yang tidak diberikan kepada Musa,
sebagaimana dia juga telah menganugrahkan ilmu kepada Musa yang tidak dia
berikan kepada Khidhir. قال
له موسى هل أتّبعك “Musa
berkata kepada Khidhir: Bolehkah aku mengikutimu.”
Yang demikian itu merupakan pertanyaan penuh kelembutan, bukan dalam bentuk
keharusan dan pemaksaan. Demikian itulah seharusnya pertanyaan seorang pelajar
kepada orang berilmu. Dan ucapan Musa (أتّبعك)
“Bolehkah aku mengikutimu?” yakni
menemanimu. (على
أن تعلّمن ممّاعلّمت رشدا ) “supaya engkau mengajarkan kepadaku
ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Maksudnya,
sedikit ilmu yang telah diajarkan Allah Ta’ala kepadamu agaraku dapat
menjadikannya sebagai petunjuk dalam menangani urusanku, yaitu ilmu yang
bermanfaat dan amal shalih. Pada sat itu, Khidhir (قال)
“Berkata”
kepada Musa: (إنّك لن
تستطيع معي صبرا) “Sesungguhnya kamu
sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.”
Maksudnya, sesungguhnya engkau tidak akan sanggup menemaniku, sebab engkau akan
menyaksikan berbagai tindakanku yang bertentangan dengan syari’atmu, karena aku
bertindak berdasar ilmu yang diajarkan Allah kepadaku dan tidak dia ajarkan kepadamu.
Engkau juga mempunyai ilmu diajarkan Allah kepadamu tetapi tidak dia ajarkan
kepadaku. Dengan demikian, masing-masing kita dibebani berbagai urusan dari-Nya
yang saling berbeda, dan engkau tidak akan sanggup menemaniku. (وكيف تصبرعلى مالم تحط به خبرا) “Dan bagaimana kamu dapat sabar atas
sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
Aku mengetahui bahwa kamu akan menolak apa yang kamu tidak mengetahui
alasannya. Tetapi aku telah mengetahui hikmah dan kemaslahatan yang tersimpan
didalamnya, sedang kamu tidak mengetahuinya. Musa berkata: (ســتجدني إن شاءالله صابراً) “Insya Allah engkau akan mendapati aku
sebagai seorang yang sabar,” yakni atas apa yang
aku saksikan dari beberapa tindakanmu. (ولا أعصي لك أمرا)
“Dan
aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan apanpun.”
Maksudnya, dan aku tidak menentangmu mengenai sesuatu. Pada saat itu, Khidhir
memberikan syarat kepada Musa: (فإن
آتّبـعـتني فلاتسئلني عن شيئ) “Ia berkata: Jika kamu
mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun.”
Yakni, dalam taraf pertamanya. (حـتّى أحدث
لك منه ذ كــرا) “Sampai aku sendiri
yang menjelaskannya kepadamu.” Yakni, sehingga aku
yang mulai memberikan penjelasan kepadamu sebelum kamu bertanya kepadaku.
Kesimpulan
Manusia itu
pada dasarnya sudah dianugerahi oleh Allah Swt dua buah kemampuan. Pertama,
kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain, walaupun pengajaran yang
dilakukan manusia itu sifatnya terbatas. Kedua, kemampuan untuk menyerap
pengajaran dari orang lain. Jika dihubungkan ke dalam hal Pendidikan, maka
kedua kemampuan inilah yang akan menjadi kunci bagi sesuatu agar bisa disebut
dengan pelaku pendidikan atau yang biasa disebut dengan Subyek pendidikan.
Penghoramatan
seorang peserta didik terhadap seorang pendidiknya telah dicontohkan oleh Nabi
Musa as terhadap al- Khidir. Di antara bentuk-bentuk penghormatan Nabi Musa as
terhadap al- Khidir adalah berbicara dengan lemah lembut, tidak banyak bicara,
dan menganggap al-Khidir lebih tahu daripada dirinya.
PUSTAKA
Ibnu Katsir, Abul Fida Ismail. 2000.
Tafsir Ibnu Katsir(Terjemah), Bandung: Sinar Baru Al-Gensindo
Al-Mahalli,
Jalaluddin dan Jalaluddin As-Suyuthi. 2010. Tasik Malaya: myface-online.blogspot.com
http://muktirahma.wordpress.com/2013/05/27/tafsir-ayat-ayat-tentang-subyek-pendidikan/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar