BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Penyimpangan dan dekadensi akhlak yang terjadi
pada kebanyakan manusia itu disebabkan mereka tumbuh dan berkambang dalam
atmosfir tarbiyah atau pendidikan yang buruk. Maka dari sini, betapa pentingnya
sebuah pendidikan yang mampu membawa generasi muslim ke puncak ketinggian
akhlak yang menebarkan kebahagiaan dan ketentraman, tentunya dengan benteng
iman yang kokoh dan terealisasi dalam pencerminan kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan kapada pendidikan moral yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan
ini mengharuskan seorang pendidik agar menjauhkan anak didiknya dari kebatilan
dan kejelekan, seperti tempat yang menebarkan permusuhan, diskotik, dan tempat
yang penuh dengan kemungkaran, karena dalam pendidikan Islam, proses penghayatan
sebenarnya terhadap moralitas akhlak menjadi tolak ukur keberhasilan. Memahami
moralitas belum tentu secara otomatis dapat menghayatinya. Pemahaman terhadap
moralitas bararti segala sesuatu tentang moralitas sudah jelas baik dan
pentingnya untuk dimiliki setiap muslim. Namun pemahaman tersebut barulah
terjadi dalam pemikiran, belum tentu meresap kedalam hati dan perasaan.
Tentunya dengan pencerminan keimanan dengan akhlak terpuji, kemungkinan tidak
akan melakukan perbuatan buruk seperti melakukan kejahatan, kekejaman, dan
kesewenang-wenangan, sebab hal-hal yang buruk tersebut apabila telah masuk dan
melekat pada pendengarannya (di masa kecil), maka akan sulit lepas di masa
besarnya dan para orang tua atau pengasuhnya akan menemui kesulitan dalam menyelamatkan
generasi muda muslim dari hal-hal yang buruk tersebut.
Pendidikan akhlak dan tasawuf sangat dibutuhkan oleh setiap individu
maupun masyarakat, karena pengaruh positifnya yang indah akan dirasakan
oleh individu dan masyarakat dalam porsi yang sama, sebagaimana dampak
negatifnya, ketika ia diremehkan, akan menyebar kepada individu dan masyarakat
dan bentuk pendidikan ruhani secara vertikal adalah dapat berakhlak dan
beribadah dengan baik kapada Allah SWT dan secara horizontal berakhlak baik
kepada setiap mahluk. Seperti kenakalan para pelajar yang terjadi
pada akhir-akhir ini, terjangkit obat-obatan terlarang, dan bergaya hidup bebas
dan pergaulan bebas, hal ini yang sangat meresahkan kaum terdidik dan pendidik.
Oleh karena itu pendidikan tasawuf dalam diri seorang mukmin sejati ini harus
diperhatikan sejak awal marh}alah (fase) umur manusia, yaitu dari sejak
masa kanak-kanak.
Dengan demikian orang yang selalu meningkatkan prestasi imannya melalui
amal saleh dan riya>d}ah (usaha-usaha yang dilakukan oleh jiwa dan
ruhani seseorang agar bisa mengurangi sifat-sifat yang suka terhadap kemewahan
dunia) akan diikuti dengan semakin meningkatnya prestasi iman (taqwa),
sedemikian dekatnya nafsiyyah manusia dengan Tuhannya, dan komitmennya
terhadap ajaran-ajaran dan petunjuk-petunjuk-Nya, serta meningkatkan ke ahsan
at-taqwi>m (kualitas manusia yang terbaik sesuai dengan asal
kejadiannya). Sebaliknya jika nafsiyyah manusia dalam hidup dan
kehidupan lebih tertarik pada dan dikuasai oleh kepentingan jismiyyah,
sehingga yang diinginkan, diingat-ingat, dipikirkan, dirasakan dan ditingkatkan
hanya kenikmatan jismiyyah belaka, maka kualitas prestasi iman (taqwa)
kedekatan dan keyakinan kapada Tuhan akan semakin merosot, jatuh ke asfala
as-safili>n (kualitas terendah) bahkan lebih rendah dari pada binatang.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa dalil
tentang tanda-tanda iman atau tidak iman dalam kehidupan sehari-hari?
2. Bagaimana
penerjemahan dalil tersebut dalam kehidupan sehari-hari?
3.
Bagaimana standarisasi perilaku mukmin sejati
dalam kehidupan pribadi dan keluarga sesuai dengan keadaan kontemporer
Indonesia?
C. TUJUAN PENULISAN
Setiap sesuatu mesti mempunyai tujuan, begitupun dengan resume ini.
Berdasrkan rumusan masalah diatas maka penulis menulis resume dengan bertujua:
1. Untuk mengetahui dalil tentang
tanda-tanda iman atau tidak iman dalam kehidupan sehari-hari.
2. Untuk mengetahui Bagaimana
penerjemahan dalil tersebut dalam kehidupan sehari-hari
3.
Untuk mengetahui Bagaimana standarisasi perilaku mukmin sejati dalam
kehidupan pribadi dan keluarga sesuai dengan keadaan kontemporer Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pemaparan Dalil
tentang Tanda-Tanda Iman atau Tidak Iman dalam Kehidupan Sehari-Hari
Keimanan merupakan
unsur terpenting seorang muslim, sebab iman menentukan nasib seorang di dunia
dan akhirat. Bahkan kebaikan dunia dan akhirat bersandar kepada iman yang
benar. Dengan iman seorang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan
akhirat dan keselamatan dari segala keburukan dan adzab Allah. Dengan iman
seorang akan mendapatkan pahala besar yang menjadi sebab masuk ke dalam syurga
dan selamat dari neraka. Lebih dari itu semua, mendapatkan keridhaan Allah yang
maha kuasa sehingga Dia tidak akan murka kepadanya dan dapat merasakan
kelezatan melihat wajah Allah di akhirat kelak. Dengan demikian permasalahan
ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari kita semua.
Adapun secara shar’i (agama), iman yang
sempurna mencakup qaul (perkataan) dan ‘amal (perbuatan). Syaikul
Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dan di antara prinsip Ahlus sunnah wal jama’ah
adalah ad-din (agama/amalan) dan al-iman adalah perkataan dan perbuatan,
perkataan hati dan lisan, perbuatan hati, lisan dan anggota badan.(
Syaikh Muhammad
Khalîl Harrâs,t.t: 231)
Dari perkataan Syaikhul Islam di atas, nampak bahwa iman menurut Ahlus
sunnah wa al-jama’ah mencakup lima perkara, yaitu perkataan hati,
perkataan lisan, perbuatan hati, perbuatan lisan dan perbuatan anggota badan. Banyak
dalil yang menunjukkan masuknya lima perkara di atas dalam kategori iman, di
antaranya adalah sebagai berikut:(Syaikh
Muhammad Khalîl Harrâs,t.t: 231)
1. Perkataan hati,
yaitu pembenaran dan keyakinan hati. SWT berfirman:
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ
الصَّادِقُونَ (١٥)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka
berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang
yang benar. (Qs. Al-Hujurat/49:15).
2. Perkataan
lisan, yaitu mengucapkan syahadat La ilaha illallah dan syahadat Muhammad
Rasulullah SAW dengan lisan dan mengakui kandungan shahadatain tersebut. Di
antara dalil hal ini adalah sabda Nabi SAW:
أُمِرْتُ أَنْ
أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ وَيُقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوْا
الزَّكَاةَ
فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ
بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ
Artinya: Aku
diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa
tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
dan sampai mereka menegakkan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah
melakukan itu, maka mereka telah mencegah darah dan harta mereka dariku kecuali
dengan hak Islam, dan perhitungan mereka pada tanggungan Allah.(HR.
al-Bukhâri, no: 25, dari `Abdullâh bin Umar radhiallahu ‘anhu).(Muhammad bin
Ismail al-Bukhary, 1412 H: 221)
3. Perbuatan hati, yaitu
gerakan dan kehendak hati, seperti ikhlas, tawakal, mencintai Allah SWT,
mencintai apa yang dicintai oleh Allah SWT, raja`’ (berharap
rahmat atau ampunan Allah SWT), takut kepada siksa Allah SWT, ketundukan hati
kepada Allah SWT, dan lain-lain yang mengikutinya. Allah SWT
berfirman:
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا
تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ (٢)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut
nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka
bertawakkal.(Qs. Al-Anfâl/8:2)
4. Perbuatan
lisan, yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan lidah. Seperti membaca
al-Qur’ân, dzikir kepada Allah SWT, doa, istighfâr, dan lainnya. Allah SWT
berfirman:
وَاتْلُ مَا
أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ
مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا (٢٧)
Artinya: Dan
bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur’ân). Tidak
ada (seorang pun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. (Qs.
Al-Kahfi/18:27)
5. Perbuatan
anggota badan.Yaitu amalan yang tidak dilakukan kecuali dengan anggota badan.
Seperti: berdiri shalat, ruku’, sujud, haji, puasa, jihad, membuang barang
mengganggu dari jalan, dan lain-lain. Allah berfirman yang artinya:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا
الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٧٧)
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah, sembahlah Rabbmu dan berbuatlah
kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan. (Qs. al-Hajj/22:77).
Adapun
lawannya dari orang yang beriman yaitu kufur. Arti Kufur Secara etimologi, kufur artinya menutupi, sedangkan menurut
terminology syariat, kufur artinya ingkar terhadap Allah swt, atau tidak
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dengan mendustakannya maupun tidak.
Perbedaannya, kalau mendustakan berarti menentang dan menolak, tetapi kalau
tidak mendustakan artinya hanya sekedar tidak iman dan tidak percaya. Dengan
demikian kufur yang disertai pendustaan itu lebih berat dari pada kufur sekedar
kufur.(A’aidl Abdullah al Qarni,1993: 23)
Diantara tanda-tanda sifat kufur yaitu:
1.
Mendustakan agama
Berdasarkan firman Allah.
وَمَنْ أَظْلَمُ
مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ
أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ (٦٨)
Artinya : Dan
siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta
terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang hak itu datang kepadanya
? Bukankah dalam Neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir ? (Q.S Al
Ankabut : 68).
2.
Memiliki sifat Enggan dan Sombong, Padahal
membenarkan.
Firman Allah:
Firman Allah:
وَإِذْ قُلْنَا
لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ
وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٣٤)
Artinya: Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, ‘Tunduklah kamu kepada
Adam’. Lalu mereka tunduk kecuali iblis, ia enggan dan congkak dan adalah ia
termasuk orang-orang kafir. (Q.S Al Baqarah : 34)
3. Ragu terhadap
dalil al-Qur’an dan Hadits.
Allah berfirman dalam Al
Quran:
وَدَخَلَ
جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ
أَبَدًا (٣٥)
وَمَا
أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ
إِلَى رَبِّي
لأجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا (٣٦)
قَالَ
لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ
تُرَابٍ ثُمَّ
مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلا (٣٧)
لَكِنَّا
هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا (٣٨)
Artinya : Dan ia
memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri ; ia berkata, “Aku
kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari
Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku,
niscaya akan kudapati tempat kembali yang baik” Temannya (yang mukmin) berkata
kepadanya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki?
Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya
dengan sesuatu pun. (Q.S Al Kahfi : 35-38)
4. Berpaling dari
Peringatan Allah SWT.
Allah menyampaikan lewat wahyunya dalam Al
Quran:
مَا خَلَقْنَا
السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى
وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ (٣)
Artinya : Dan
orang-orang itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka (Q.S Al Ahqaf
: 3)
5. Nifaq (munafik).
Dalilnya adalah firman Allah dalam surat Al
Munafiqun:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ
عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ (٣)
Artinya : Yang
demikian itu adalah karena mereka beriman (secara) lahirnya lalu kafir (secara
batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat
mengerti (Q.S Al Munafiqun : 3)
6. Kufur Kecil.
Kufur kecil
yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia
adalah kufur amali. Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam
Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur
besar.
Seperti kufur
nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya. Dalam Al Quran banyak
sekali dalil tentang kufur kecil ini disebutkan diantaranya adalah firman Allah
dalam Alquran:
يَعْرِفُونَ
نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ (٨٣)
Artinya: Mereka
mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkari dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang kafir (Q.S An Nahl : 83)
B. Implementasi Dalil tentang
Tanda-Tanda Iman dalam kehidupan sehari-hari
Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menuturkan: “Hasil usaha jiwa dan
kalbu yang terbaik dan penyebab seorang hamba mendapatkan ketinggian di dunia
dan akhirat adalah ilmu dan iman,(Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs,t.t: 232)
Allah SWT menggabung keduanya dalam firman-Nya yang artinya:
وَقَالَ
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالإيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ
إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لا
تَعْلَمُونَ (٥٦)
Artinya: Dan
berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada
orang-orang yang kafir): “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut
ketetapan Allah, sampai hari berbangkit.” (Qs. Ar-Ruum: 30/56)
Dan firman Allah SWT yang artinya:
يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (١١)
Artinya:
Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Qs.
Al-Mujaadilah: 58/11)
Dalam buku pelajaran
Madrasah Aliyah dan SMA disebutkan bahwa penerapan sikap perilaku beriman
kepada kitab-kitab allah Semakin dalam seseorang imannya itu, bila tercermin
dari sikap perilaku dalam sehari-hari nampak dari kehidupannya. Di antara sikap
perilaku penerapan sikap perilaku beriman kepada Allah SWT sebagai berikut: (Buku paket
Akidah Akhlak kelas X MA)
1.
Optimis dalam beribadah kepada Allah SWT atas segala usaha yang
dilakukannya karena percaya pertolongan Allah SWT sangat dekat kepada orang
yang berbuat baik (Q.S.Al A’raaf (7) : 56).
2.
Selalu bersyukur bila mendapat nikmat (Q.S.
Ibrahim (14) : 7).
3.
Tabah dan sabar bila mendapat musibah dan
cobaan (Q.S. Al Baqarah (2) : 155-157).
4.
Senantiasa meminta pertolongan kepada Allah
dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara (Q.S. Al Fatihah (1) : 5).
5.
Sebagai pedoman dan contoh perilaku di
masyarakat (Q.S. Ali ‘Imran (3) : 110).
6.
Mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal
yang baik bagi masyarakat (Q.S. Ali ‘Imran (3) : 104).
7.
Sebagai motivator, dinamisator, dan
stabilisator dalam kehidupan, sehingga hubungan terjalin secara serasi, selaras
dan seimbang.
8. Membiasakan dan
senang sekali melakukan kegiatan amal saleh, disiplin dan patuh kepada ajaran
Islam.
9.
Bekerja keras (berjihad) dan tidak khawatir,
karena yakin akan perlindungan Allah SWT.
10. Memurnikan
ajaran Islam dengan memantapkan tauhid dalam jiwa, dan menjauhi mempercayai
takhayul dan mistik.
11. Menjauhi dan
mencegah perbuatan-perbuatan tercela yang tidak diridlai Allah SWT.
12. Waspada dan
mawas diri karena merasakan kehadiran malaikat yang senantiasa mengawasinya.
13. Jujur dan
meyakini bahwa kelak akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya yang baik
dan buruk.
Kesempurnaan dari Hak
Allah bagi manusia beriman tidak cukup untuk hanya memikirkan keselamatan
dirinya dari segala bahaya dan berbagai musibah dari segala perkara dunia pada
kehidupannya dan dari berbagai kesusahan dan kesengsaraan hidup berlomba-lomba
mencari perbekalan hidup bagi dirinya dan keturunannya dengan alas an untuk
kuat ta’at beribadah, padahal mengikuti hawa nafsu yang samara pada hati,
sehingga merasa butuh pada kehidupan Hubbuddunya (cinta dunia) sehingga
kikir bersedekah karena sangat takutnya menjadi miskin dan sengsara.
Dan berlomba-lomba pula
mencari keselamatan akhirat agar terbebas dari siksa kubur dan azab neraka dengan
melulu atau banyak mengerjakan berbagai Peribadatan (Ubudiyyah), padahal
mengikuti nafsu yang samara pada hati hingga menghilangkan keikhlasan
Kepada-Nya, maka timbulah rasa bangga hati (ujub) karena merasa telah pahala
yang didapat bagi bekal akhirat, kemudian lupa bahwa; tiadalah amal yang
diterima melainkan yang ikhlas Kepada-Nya pada Rahmat-Nya, jadilah hati
terpedaya dan terbelenggu mengandalkan amal, sehingga tiadalah pada lathifah
Bathin Rasa Tawadhu (Merendah) Kepada-Nya dalam segala Keikhlasan Amal.
Langkah-langkah antisipasi
dalam menguatkan keimanan dapat diwujudkan dalam beberapa aktifitas ibadah
yaitu:
1.
Memiliki lidah yang selalu menjadikannya sibuk berdzikir atau bertasbih
kepada Allah dengan membaca Al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama.
2. Memiliki hati
yang selalu mengeluarkan dari dalam hatinya perasaan tidak bermusuhan, iri,
dengki dan lain sebagainya.
3. Penglihatan
tidak akan memandang kepada hal-hal yang haram, tidak memandang dunia dengan
keinginan hawa nafsu, tetapi ia memandanginya dengan mengambil i’tibar dan
pelajaran.
4. Perutnya, dia
tidak memasukkan hal-hal haram kedalamnya, sebab yang demikian itu adalah
perbuatan dosa.
5. Tangannya, dia
tidak memanjangkan tangannya ke arah hal-hal yang
haram, tetapi memanjangkannya untuk memenuhi ketaatan.
haram, tetapi memanjangkannya untuk memenuhi ketaatan.
6. Telapak
kakinya, dia tidak berjalan kepada hal-hal yang haram ataukedalam kemaksiatan,
tetapi berjalan di jalan Allah SWT dengan bersahabat atau berteman dengan
orang-orang yang sholeh.
7.
Menjadikan keta’atannya itu murni dan ikhlas
karena Allah SWT.
C.
Standarisasi
Perilaku Mukmin Sejati dalam Kehidupan Pribadi dan Keluarga sesuai dengan
Keadaan Kontemporer Indonesia
Pendidikan
moral dan akhlak menduduki posisi yang sangat penting dalam pembentukan
karakter pendidikan di Indonesia, bahkan bukan hanya dalam aspek pendidikan
saja, melainkan juga bidang kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan
ideologi. Arti penting dari pendidikan moral atau akhlak dapat dilihat dari
hasil pendidikan yang sampai saat ini berlangsung. Banyak pemimpin negara yang lupa
akan penderitaan rakyat, hanya mementingkan diri dan kelompoknya, menindas kaum
melarat dan kalah serta tunduk kepada pemilik modal besar (konglomerat). Bangsa
Indonesia akan terus mengalami kemerosotan ekonomi, politik, dan budaya, ketika
pendidikan moral dan akhlak sudah dijadikan sebagai landasan awal pendidikan
nasional. Namun, semua ini tergantung pada political will para pemimpin
negeri ini (Presiden dan DPR atau ekskutif dan legislatif).
Seperti yang termaktub dalam firman Allah Swt :
إِنَّ الَّذِينَ
آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ
رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan Shabiin, siapa
saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir
serta beramal shaleh, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah : 62)
Imam
Abu Ja’far al-Thabari kerika mengomentari ayat di atas beliau berkata :
“Makna
kata Iman yang disandarkan kepada orang mukmin pada ayat ini adalah ketetapan
iman dalam diri mereka dengan tidak menggantinya, adapun Iman yang disandarkan
kepada kaum Yahudi, Nasrani dan Sabiin adalah kepercayaan dan pembenaran mereka
terhadap kenabian Muhammad saw serta seluruh yang datang kepada beliau
(rislah), maka barang siapa diantara mereka yang beriman kepada Muhammad Saw
serta risalah yang dibawa oleh beliau, dan beriman kepada hari Akhirat dan
beramal shaleh, serta tidak menggantinya dan merubahnya hingga ia meninggal,
maka baginya pahala atas segala yang ia kerjakan dan bagi mereka pahala disisi
Allah sebagaiman yang disifatkan oleh Allah tentang mereka dalam ayat ini”(Muhammad bin
Jarir bin Yazid Abu Ja’far al-Thabary, 1420 H / 2000: 143)
Penjelasan Imam al-Thabary
dalam mengomentari ayat di atas menunjukkan bahwa keimanan yang dapat
mengantarkan kepada pahala yang besar dan rasa aman adalah keimanan dengan
mengikuti syariat yang dibawa oleh Muhammad Saw, karena syriat beliau merupakan
syariat penutup dan penyempurna atas syariat Rasul-rasul terdahulu. Berdasarkan hal
tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kata iman yang dimaksudkan dalam ayat
ini adalah syriat khatam an-Nabiyyin Muhammad Saw. Hal ini sejalan
dengan sabda Rasulullah Saw :
لا يؤمن أحدكم
حتى يكون هواه تبعا لما جئت به
Artinya: Tidak
beriman salah seorang diantara kalian hingga nafsunya mengikuti apa diutuskan
kepadaku.(Ibnu Baththah
al-’Akbary, t.t: 298)
Begitu
pula dalam kehidupan keluarga muslim, prinsip rumah tangga sakinah mawadah
wa rahmah adalah aqidah keimanan Islam dan hukum kesetaraan derajat
perempuan dengan laki-laki (bhs menterengnya kesetaraan gender). Dan doktrin
kesepakatan di antara dua insan dalam berrumahtangga adalah perjanjian yang
tidak boleh dinafikan. Bila kita masuki hakekat dasar dalam praxis hidup
melalui hukum umum gerak akhlaaq kemanusiaan, adalah interaksi timbal balik di
antara dua insan yang berpasangan, yaitu usaha dua insan yang berpasangan untuk
berbuat saling memberikan perhatian, saling membantu dan saling mencintai.
BAB III
A. KESIMPULAN
1.
Dari cahaya iman yang ada dalam hatinya,
jadilah orang-orang beriman melakukan aktifitas-aktifitas yang mencirikan
keimanannya. Adapun tanda-tanda Orang yang Beriman QS. Al Baqarah (2) : 177
(Beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi), memberikan harta yang dicintainya (QS 9:92 ; 3:134 ; 8:3),
memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati
janjinya apabila ia berjanji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
dalam peperangan (QS. Ali Imran (3) : 16-17), berdo'a, sabar, bertaubat,
menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan memelihara hukum-hukum
Allah, menjaga kemaluannya, memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya,
2.
Di antara Karakteristik (tanda) orang yang
beriman adalah:
a. Orang yang beriman adalah
mereka yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan mereka kepada
selain Allah, yang ketika nama Allah disebutkan hati mereka bergetar, dan
ketika mereka mendengarkan ayat-ayat Allah di bacakan keyakinan mereka akan
kebenaran Risalah Rasulullah Saw semakin terpatri dalam dirinya.
b. Orang yang
beriman adalah mereka yang bersegera dalam menjalankan segala bentuk kewajiban
syariah tanpa melakukan penundaan sedikitpun.
c.
Orang yang beriman adalah mereka yang
senantiasa menjaga keutuhan persaudaraan diantara sesama muslim.
3. Adapun
standarisasi keimanan seorang mukmin dalam kehidupan pribadi dan keluarga yang
sesuai dengan keadaan kontemporer Indonesia yaitu:
a.
Kemerdekaan dari kekuasaan orang lain sebagai
wujud persamaan hak.
b.
Menimbulkan keberanian dan ingin terus maju
karena membela kebenaran.
c.
Keyakinan bahwa Allah menjamin kehidupanya
dengan limpahan rejeki.
d. Mendapat
ketenangan jiwa dan ketentraman keluarga.
e.
Kemampuan mengendalikan diri dari sifat tercela
dan melanggar hukum.
f.
Mendapat kedudukan yang lebih baik.
B. SARAN
Dengan selesainya penulisan resume ini, maka penulis
mengharap kepada pembaca sekiranya menemukan kesalahan pada resume ini untuk
memperbaikinya. Sebab penulis bukanlah orang sempurna yang tidak lepas dari
sifat kekeliruan, sehingga penulis juga biasa melakukan kesalahan. Dan jika ada sesuatu yang biasa di
jadikan bahan kajian oleh pembaca maka penulis akan merasa termutifasi.
Saran dan
kritik dari pembaca yang sifatnya membangun semangat menulis penulis akan
selalu ditunggu oleh penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. Esei-esei Intelektual
Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: logos Wacana ilmu, 1998.
Al-Abrasyi, Athiyah. Dasar-Dasar Pokok
Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Abidin, Ibn Rus. Pemikiran Al-Ghazali
Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Al-Bukhary,
Muhammad bin Ismail. Sahih Bukhari Cet. I. Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyah, 1412 H / 1992 M.
An-Nahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di
Rumah Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Al-hijazi, Hasan Bin Ali. Manhaj Tarbiyah
Ibnu Qoyyim. Jakarta: Pustaka Al-kausar, 2001.
al-Thabary, Muhammad bin Jarir bin Yazid
Abu Ja’far. Jami’ al-Bayan fii Ta’wil al-Qur’an, Jld. XIII.
Beirut: Muassasah al-Risalah, 1420 H / 2000 M.
Al-Qarni,
A’aidl Abdullah Kitab 30 Tanda-Tanda Orang Munafiq. Jakarta : Gema
Insani. 1993.
Al-’Akbary, Ibnu
Baththah. al-Ibanah. Kairo: Maktabah as-Sunnah, T.Th.
Baqi, Muhammad Fuad Abdul. al-Mu’jam
al-Mufahras li Al-Fadh al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, 1412 H / 1992 M.
Kanwil DEPAG JATIM, Buku paket Akidah Akhlak
kelas X MA.
Rohman, Roli Abdul. Akidah Akhlak MA kelas X (Jakarta: Tiga Serangkai, 2011).
Harrâs, Syaikh Muhammad Khalîl Sharh}
Aqî>dah Wâsit}iyah, takhrîj: ‘Alwi bin Abdul Qadir as-Saqqâf, Beirut:
Dar Al-Fikr, t.t.
Khoirun, Rosyadi, Pendidikan Profetik. Yogyakarta:
Pusataka Pelajar, 2004.
Mulkhan, Abdul Munir, Sufi Pinggiran,
menembus batas-batas. Yogyakarta: Impulse-Kanisius, 2007.
Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an,
Bandung: Mizan, 1998.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan
Terjemahannya, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2003.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar